sidat

Sidat, Belut Bertelinga: Potensi dan Aspek Budidayanya

sidat

Ikan merupakan sumber protein yang lebih baik dibanding hewan ternak karena rendahnya kandungan/kadar kolesterol dan relatif lebih murah.Sidat merupakan salah satu jenis ikan yang potensial untuk dikembangkan. Sebagian masyarakat menyebutnya sebagai ‘Belut Bertelinga’ karena keberadaan sirip dadanya

menyerupai daun telinga. Sidat dikenal pula dengan nama lain moa, lubang, dan uling (Jawa Barat); sedangkan di Jawa Tengah menyebutnya dengan nama pelus (Schuster & Djajadiredja, 1952).

Sidat (Anguilla spp.) merupakan ikan konsumsi yang memiliki nilai ekonomis penting baik untuk pasar lokal maupun luar negeri. Permintaan pasar akan ikan sidat sangat tinggi mencapai 500.000 ton per tahun terutama dari Jepang dan Korea, pemasok utama sidat adalah China dan Taiwan (Anonim, 2006). Sidat yang dikenal dengan ’unagi’ di Jepang sangat mahal harganya karena memiliki kandungan protein 16,4% dan vitamin A yang tinggi sebesar 4700IU (Pratiwi, 1998).

Meskipun demikian budidaya ikan sidat di Indonesia masih sangat terbatas dan kegiatannya hanya berupa pembesaran. Hal ini disebabkan teknik reproduksinya yang belum dikuasai karena sifat daur hidupnya yang unik. Pada ukuran anakan sampai dewasa mereka hidup di perairan tawar, tetapi pada saat mijah beruaya menuju ke laut dalam.

Dunia mengenal sebanyak 18 jenis sidat (Miller & Tsukamoto, 2004). Beberapa jenis sidat Eropa dilaporkan terancam punah akibat penangkapan yang berlebihan dan kerusakan habitat, sehingga hasil tangkapan benih menurun drastis hingga 95-99% (Anonim, 2008). Di Indonesia sendiri sedikitnya mengenal tujuh jenis sidat (Sugeha dkk., 2006), namun hanya Anguilla bicolor yang sudah mulai dibudidayakan (Peni, 1993). Daerah penangkapan benih sidat meliputi pantai barat Sumatera dan pantai Selatan Jawa, terutama di Pelabuhan Ratu dan Cilacap (Sutardjo dan Mahfudz, 1972; Affandi dkk., 1995; Sarwono, 1999).

Mengingat tingginya potensi ikan sidat sebagai komoditi penghasil devisa dan perlunya pengembangan pembudidayaannya maka akan dikupas sekilas mengenai morfologi, reproduksi dan aspek budidayanya.

Morfologi dan Klasifikasi

Tubuh sidat berbentuk bulat memanjang, sekilas mirip dengan belut yang biasa dijumpai di areal persawahan. Salah satu karakter/bagian tubuh sidat yang membedakannya dari belut adalah keberadaan sirip dada yang relatif kecil dan terletak tepat di belakang kepala sehingga mirip seperti daun telinga sehingga dinamakan pula belut bertelinga. Bentuk tubuh yang memanjang seperti ular memudahkan bagi sidat untuk berenang diantara celah-celah sempit dan lubang di dasar perairan.

Panjang tubuh ikan sidat bervariasi tergantung jenisnya yaitu antara 50-125 cm. Ketiga siripnya yang meliputi sirip punggung, sirip dubur dan sirip ekor menyatu. Selain itu terdapat sisik sangat kecil yang terletak di bawah kulit pada sisi lateral. Perbedaan diantara jenis ikan sidat dapat dilihat antara lain dari perbandingan antara panjang preanal (sebelum sirip dubur) dan predorsal (sebelum sirip punggung), struktur gigi pada rahang atas, bentuk kepala dan jumlah tulang belakang. Menurut Nelson (1994) ikan sidat diklasifikasikan sebagai berikut:

Filum : Chordata
Kelas : Actinopterygii
Subkelas : Neopterygii
Division : Teleostei
Ordo : Anguilliformes
Famili : Anguillidae
Genus : Anguilla
Species : Anguilla spp.

Reproduksi
Perkembangan gonad sidat sangat unik dan jenis kelaminnya berkembang sesuai dengan kondisi lingkungannya. Pada saat anakan kondisi seksualnya berganda sehingga tidak mempunyai jaringan yang jelas antara jantan dan betinanya. Pada tahap selanjutnya sebagian gonad akan berkembang menjadi ovari (indung telur) dan sebagian lagi menjadi testis dengan perbandingan separuh dari populasinya adalah jantan dan separuh lagi betina.

Dalam siklus hidupnya, setelah tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang di perairan tawar, sidat dewasa yang lebih dikenal dengan yellow eel berkembang menjadi silver eel (matang gonad) yang akan bermigrasi ke laut untuk memijah (Rovara dkk., 2007).

Sidat termasuk hewan yang bersifat katadormus karena pada ukuran anakan sampai dewasa tinggal di perairan tawar namun ketika akan memijah beruaya ke laut dalam. Pemijahan diperkirakan berlangsung pada kedalaman 400-500 meter dengan suhu 16-17 oC dan salinitas 35 permill. Jumlah telur yang dihasilkan (fekunditas) setiap individu betina berkisar antara 7juta-13 juta butir dengan diameter sekitar 1 mm (Matsui, 1982). Telur akan menetas dalam waktu 4-5 hari. Setelah memijah induk sidat biasanya akan mati.

Benih sidat yang baru menetas berbentuk lebar seperti daun yang dinamakan leptocephalus yang memiliki pola migrasi vertikal, yaitu cenderung naik ke permukaan pada malam hari dan siang hari turun ke perairan yang lebih dalam. Selanjutnya benih akan berkembang dalam beberapa tahapan menjadi agak silindris dengan warna agak buram yang dikenal dengan nama glass eel (Gambar 1). Pada tahap glass eel biasanya sudah mulai terdapat pigmentasi pada bagian ekor dan kepala bagian atas (Tesch, 1977). Umur glass eel yang tertangkap di muara sungai diperkirakan antara 118-262 hari dengan umur rata-rata 182,8 hari (Setiawan dalam Rovara, 2007). Panjang tubuh glass eel antara 5 – 6 cm dengan berat sekitar 0,2 gram.

 

Gambar 1. Benih sidat (glass eel) pada kotak penampungan

 

Keberadaan glass eel sangat tergantung pada musim. Hal ini lebih dipertegas lagi dari hasil wawancara dengan pengumpul benih sidat di Pelabuhan Ratu Sukabumi yang mengatakan bahwa ketersediaan benih sidat sangat tergantung dengan musim dan umumnya lebih banyak pada musim penghujan (Nopember – April). Jumlah glass eel yang tertangkap selama kurun waktu tersebut sangat berfluktuasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Tesch (1977) bahwa glass eel akan bermigrasi masuk ke perairan tawar pada saat salinitas di muara sungai relatif rendah (1-2 ppt). Salinitas rendah seperti ini akan banyak terkondisikan pada musim hujan.

Penangkapan benih sidat pada umumnya dilakukan pada malam hari ketika bulan mati/gelap dengan menggunakan sirip (hanco dengan mesh size halus) dengan penerangan lampu petromax. Jumlah nelayan penangkap benih sidat di Pelabuhan Ratu bila sedang musimnya mencapai ratusan orang dan hasilnya dijual ke pengumpul.

Aspek Budidaya
Budidaya sidat sudah dilakukan di beberapa negara (Jepang, China, Taiwan, dan Itali) sejak awal abad 20 (Matsui, 1982); sedangkan di Indonesia baru dirintis sekitar tahun 1995-1997 namun kurang berkembang karena tidak terjaminnya pasokan benih yang siap tebar (Herianti, 2005). Hal ini sejalan dengan pendapat Setiadi dkk.(2006) dan Prahyudi (Pers Com) yang mengatakan bahwa kendala utama dalam budidaya sidat yang dihadapi adalah tingginya mortalitas pada saat glass eel sampai elver yang mencapai 70-80%. Begitu pula dengan Peni (1993) dan Keni (1993) yang menyatakan bahwa pemeliharaan benih sidat pada tahap awal merupakan masa yang paling sulit dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 30-50%.

Selain mortalitas yang tinggi, masalah lain dalam budidaya sidat adalah laju pertumbuhannya yang lambat yaitu kurang dari 3,1% (Bromage et al.,1992). Kepadatan tebar juga perlu diperhatikan karena berpengaruh terhadap mortalitas dan pertumbuhannya. Degani dan Lavenon dalam Affandi & Riani (1995) melaporkan bahwa kelangsungan hidup elver dalam pemeliharaan berkisar antara 37-55% yang tergantung pada padat penebarannya. Matsui (1982) menambahkan bahwa kepadatan yang optimal pada pemeliharaan sidat adalah 1,1-1,9 kg per 3,3 meter persegi.

Untuk memacu pertumbuhan ikan sidat perlu disediakan pakan berprotein hewani yang tinggi karena sifatnya yang karnivora (Peni, 1993; Sarwono, 1999; Kamil dkk., 2000). Aktivitas makan sidat paling tinggi terjadi pada malam hari karena sifatnya nokturnal (Matsui, 1982; Sarwono, 1999). Dengan demikian manipulasi penetrasi cahaya diduga akan mempengaruhi aktivitas makan yang secara tidak langsung akan berdampak pula pada meningkatnya pertumbuhan.

Dalam masa awal pemeliharaan salinitas juga perlu diperhatikan, Affandi & Riani (1995) melaporkan bahwa saat kritis pemeliharaan benih sidat yang ditangkap dari alam adalah pada pemeliharaan larvanya (glass eel-elver), kisaran salinitas air yang baik untuk pemeliharaan diperkirakan antara 0-7‰.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah proses dan cara pengangkutan. Penanganan yang baik pada saat di lapangan maupun pengangkutan akan menekan tingkat mortalitas. Matsui (1982) melaporkan bahwa benih sidat yang berasal dari Selandia Baru yang sebelumnya diberok selama dua hari pada air mengalir bersuhu 14 oC dan pada saat pengangkutan dipacking dalam box bersuhu 5-8oC ternyata tidak ada kematian dalam pengangkutan selama 32 jam. Suhu dalam box pengangkutan terkait dengan tingkat metabolisme tubuh dan aktivitas glass eel, dimana pada suhu rendah metabolisme dan aktivitasnya akan menurun sehingga pengeluaran bahan beracun terutama CO2 dan amoniak akan berkurang begitu pula dengan konsumsi oksigen akan lebih rendah.

Kegiatan budidaya sidat tahap pembesaran dilakukan mulai tahap elver (sebesar pensil) sampai ukuran konsumsi yang beratnya sekitar 250-300 gr/ekor. Salah satu cara/tempat pemeliharaan adalah menggunakan jaring apung yang ditempatkan pada situ, danau, atau kolam ukuran besar (Gambar 2). Pakan yang diberikan biasanya berupa pellet dengan kandungan protein di atas 30%.

Gambar 2. Budidaya pembesaran sidat pada jaring apung

Potensi dan Konservasinya
Sidat memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi komoditi perikanan unggulan karena permintaan dunia yang sangat tinggi. Pada tahun 1995 permintaan akan sidat mencapai 205.000 ton yang senilai dengan 3,1 milyar dollar Amerika dan sebagian besar (92%) dihasilkan dari budidaya (Rovara dkk., 2007). Sayangnya pasokan benih terus menurun secara drastis pada beberapa negara yang teknik budidaya sidatnya sudah maju (Jepang, China, Taiwan, Itali dan Belanda).

Sebaliknya Indonesia yang memiliki sidat dengan jenis yang cukup beragam belum dimanfaatkan secara optimal. Kebanyakan sidat yang dipasarkan merupakan hasil tangkapan dari alam (Gambar 3). Sampai saat ini jumlah pembudidaya sidat masih sangat terbatas, padahal potensi benih sidat (glass eel) di Indonesia cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa antara jumlah produksi benih yang dihasilkan dari alam belum sepadan dengan pemanfaatnnya untuk pembesaran. Dengan demikian perlu diwaspadai karena kenyataan di lapangan justru permintaan ekspor terhadap benih sidat (glass eel) semakin meningkat, misalnya dengan dalih untuk penelitian.
Berdasarkan SK Mentan No. 179/Kpts/Um/3/1982 sidat termasuk jenis ikan yang dilarang untuk diekpsor bila ukuran diameter tubuhnya kurang dari 5 mm. Bila mengacu pada peraturan di atas maka sidat pada tahap glass eel tidak diperbolehkan untuk diekspor. Selain peraturan tersebut dalam upaya pelestarian ikan sidat dalam artian pemanfaatan secara berkelanjutan ada beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain:

  • Pembatasan ukuran sidat yang boleh ditangkap oleh masyarakat, misalnya dengan melarang menangkap sidat indukan matang gonad
  • Pembatasan waktu penangkapan sidat oleh masyarakat misalnya dengan larangan menangkap pada saat musim ruaya induk sidat ke laut untuk mijah
  • Pemeliharaan habitat yang digunakan sebagai jalur ruayanya, misalnya menjaga agar tidak terjadi pengendapan/penutupan bagian muara sungai
  • Larangan menangkap ikan menggunakan bahan berbahaya (racun dan setrum)

Penutup
Sidat merupakan ikan asli Indonesia yang sangat berpotensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan dengan prinsip berkelanjutan. Dalam budidayanya masih banyak kendala yang tentunya perlu dilakukan penelitian dasar tentang ekologi, fisiologi dan aspek terkait lainnya.

Daftar Pustaka

Affandi, R., M.F. Rahardjo & Sulistiono. 1995. Distribusi juvenile ikan sidat (Anguilla spp.) di perairan segara anakan Cilacap, Jawa Tengah. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Vol. 3(1): 27-38.

Affandi, R. & Riani. 1995. Pengaruh salinitas terhadap derajat kelangsungan hidup pertumbuhan benih ikan sidat (elver), Anguilla bicolor bicolor. Jurnal Ilmu-ilmu Perairan dan Perikanan Vol. 3(1): 39-48.

Anonim. 2006. Investasi Budidaya Ikan Sidat (Anguilla sp.). Kagindo, 2006.

Anonim. 2007. Di Balik Ekspor Sidat Budidaya. Majalah AGRINA Vol. 3(63), diakses tanggal 1 Oktober 2007.

Anonim. 2008. Sidat terancam punah. http://www.seputar -indonesia.com, diakses tanggal 11 Maret 2008.

Bromage, N., J. Shephred & J. Roberts. 1992. Farming systems and husbandry practice. Blackwell Scientific Publications, Cambridge.

Bardach, J.E., Ryther, J.H., and McLarney, W.O. 1972. Culture of True Eels (Anguilla spp.). In: Aquculture. The Farming and Husbandry of Freshwater and Marine Organism. John Willey an Sons. New York, p. 385-396.

Herianti, I. 2005. Rekayasa lingkungan untuk memacu perkembangan ovarium ikan sidat (Anguilla bicolor). Oseanologi dan Limnologi No. 37: 25-41.

Kamil, M.T., R. Affandi, I. Mokognita & D. Jusadi. 2000. Pengaruh kadar asam lemak O 6 yang berbeda pada kadar asam lemak O 3 tetap dalam pakan terhadap pertumbuhan ikan sidat (Anguilla bicolor bicolor). Jurnal Central Kalimantan Fisheries Vol. 1(1): 34-40.

Keni. 1993. Atraktan dalam pakan sidat. Majalah Perikanan Techner No. 09 September 1993.

Matsui, I. 1982. Theory and practice of eel culture. AA. Balkema/Rotterdam.

Miller, M.J. & K. Tsukamoto. 2004. An introduction to leptocephali biology and identification. Ocean Reeserch Institute, the University of Tokyo.

Nelson, J.S. 1994. Fishes of the World, 3rd editions. John Wiley & Sons, Inc., New York, xv+600 pp.

Peni, S.P. 1993. Tiga jenis sidat laku ekspor. Trubus No. 285 Th.XXIV.

Pratiwi, E. 1998. Mengenal lebih dekat tentang perikanan sidat (Anguilla spp.). Warta Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 4(4): 8-12.

Rovara, O., I.E. Setiawan & M.H. Amarullah. 2007. Mengenal sumberdaya ikan sidat.BPPT-HSF, Jakarta.

Sarwono, B. 1999. Budidaya belut dan sidat. Penebar Swadaya, Jakarta.

Schuster & Djajadiredja, 1952. Local common name.

Setiadi, E. Fatuchri S. Dan J. Subagja., 2006. Pengaruh padat tebar berbeda terhadap pertumbuhan dan sintasan pada elver (Anguilla bicolor) dalam sistem resirkulasi di dalam panti benih. in pers

Sugeha, H.Y., J. Aoyama & K. Tsukamoto. 2006. Downstream migration of tropical anguillid silver eels in the Poso Lake, Central Sulawesi Island, Indonesia. Prosiding Seminar Limnologi: 267-275.

Shyu, C. 2001. Technological Development of a Super-Intensive Resirculating Eel Culture System in Taiwan. Aquaculture and Fisheries Resources Management. Proccedings of the joint Taiwan-Australia Aquaculture and Fisheries Resources and Management Forum. TFRI, p 97-103.

Sutardjo & Machfudz. 1982. Percobaan pendahuluan penangkapan dan pengangkutan elver (Anguilla bicolor).

Suzuki, Y., Maruyama,T., Numata, H., Sato, H. And Asakawa, M., 2003. Performance of a closedd recirculating

systemwith foam separion, nitrification and denitrification units for intensive culture of eel: to words zero emmision. Aquaculture Engineering: 29, 165-182.

Taufik I., Subandiyah, S. dan Yosmaniar. 2005. Penentuan tingkat toleransi benih ikan sidat (Anguilla bicolor) terhadap pencemaran surfaktan deterjen. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia 11(1); 95-103.

Tesch, 1977. The eel: biology and management of Anguilld eels. Chapman and Hall, London.

——-
oleh: Haryono, Peneliti pada Puslit. BIologi LIPI Cibinong
Tulisan ini telah dimuat di FAUNA INDONESIA 8 (1) halaman 27-31, Juni 2008